Judul : The Day You Died
Penulis : Jack Lance
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Cetakan : Kedua, Desember 2016
ISBN : 978-602-249-765-3
Blurb
Hidup Jason Evans tak
ubahnya berlayar di laut teduh. Tak ada kata yang mampu menggambarkan
kehidupannya selain sempurna! Ia hidup bahagia bersama istri yang sangat
mencintainya, memiliki karier gemilang, dan dikelilingi banyak sahabat
baik. Kebahagiaannya tak terusik, hingga seorang tak dikenal
mengiriminya sebuah foto aneh—foto batu nisan—dengan pesan mengejutkan
di baliknya: Kau sudah mati.Jason yakin foto itu hanya ulah jail
seseorang, tetapi kemudian ia menerima foto kedua. Kali ini dengan pesan
yang lebih membingungkan: Kau mungkin merasa hidup, tapi sesungguhnya
kau tidak ada di dunia ini....Jason mulai merasa nyawanya terancam.
Pencarian akan batu nisan yang tertera di foto menjadi obsesinya: Batu
nisan yang mungkin saja adalah penanda makamnya sendiri. Ia pun
menemukan bahwa hidup tak seperti yang selalu ia yakini selama
ini.Kemudian, foto ketiga datang dengan pesan: 18 Agustus, hari
kematianmu.
***
Amplop
tersebut berisi foto polaroid. Kiraman semacam itu tidaklah mengejutkan. Tapi
gambar pada foto tersebut layak diperhatikan: sebuah gerbang besi tinggi
berkarat, dengan pohon oak di kedua sisinya, serta di belakangnya, dengan pohon
oak di kedua sisinya, serta dibelakangnya, sebuah nisan menjorok miring dari
tanah (hlm. 15).
***
Jason Evans dipusingkan dengan kerjaan kantor untuk
mencari rencana kampanye iklan mobil bekas milik Tommy Jones. Namun alih-alih
mencari ide, tanpa sengaja mata Jason melihat amplop, berisi foto polaroid.
Yang mengejutkan adalah, pesan singkat di balik foto. Kau Sudah Mati (hlm 15). Menuruti rasa penasaran, Jason mencari George
yang bertugas mengantar surat di setiap bilik kantor. Tapi, jawaban George tak
memuaskan rasa penasaran Jason. “Saya
tidak mengerti kenapa ini terjadi, Tuan Evans. Saya berani bersumpah saya telah
mengosongkan baki surat saya. Dan kemudian, ketika saya meliriknya setengah jam
lalu, di luar kebiasaan saya, amplop Anda ada di sana.” (hlm 19)
Merasa surat itu lelucon, Jason melanjutkan
hari-harinya seperti biasa. Mengobrol dengan istrinya, Kayla dan menjalani
rutinitas kantoran. Lagi-lagi, Jason di usik oleh surat kedua yang dia temukan
di rumahnya. Kali ini Jason tidak menganggapnya main-main, karena surat
tersebut berisi ancaman. Foto yang
pertama hanya membuatnya bingung, tapi dengan adanya foto kedua, segalanya
berubah serius; serius dan menakutkan (hlm 45).
Dan ancaman itu semakin lama semakin serius.
Seseorang berusaha mencelakai Jason dan Kayla. Lalu, surat ketiga sebagai
bentuk ancaman lain. Makam yang bertulis satu huruf dengan latar pemakaman
serta pesan terakhir yang membuat Jason segera mencari tahu. Awalnya hanya
berusaha meninjau foto dengan bantuan Lou tapi lama-kelamaan mencari tahu di
mana letak makam itu.
Rahasia yang ingin disimpan sendiri akhirnya
ketahuan oleh Kayla. Awalnya Kayla marah karena memiliki masa lalu buruk dengan
pemakaman, berkat upaya Jason meyakinkan istrinya, akhirnya Kayla mau membantu
Jason mencari makam misterius tersebut.
Namun sebelum Jason mengajak Kayla untuk mencari
letak makam, dia menyusun nama orang yang mungkin membencinya. Lalu, mulai
membuat daftar kariernya yang bisa memberikan pencerahan. Namun tidak
memberikan hasil apa-apa.
Baca juga: Review Dark Memory Jack Lance
Kayla yang resah menyarankan Jason untuk datang bersama ke Mark, ahli terapis. Upaya Mark ternyata mampu membantu Jason mendapatkan petunjuk-petunjuk. Petunjuk itu yang membantu Jason mencari letak makam tersebut. Semakin Jason mencari petunjuk semakin banyak yang dipertaruhkannya. Hingga membuat keributan bersama Kayla. Akhirnya, Jason sadar bahwa apa pun yang dilakukannya akan mengancam nyawa Kayla. Pertengkaran itu adalah perpisahan mereka (hlm 421).
Novel setebal 464 halaman ini membuat pembaca
disuguhkan plot twist. Tidak tertebak
hingga akhirnya beberapa bab akhir mengungkap siapa yang meneror Jason selama
ini. Latar yang digambarkan pun bisa dibayangkan. Tokohnya terus berkembang dan
membuat pembaca larut dalam jalinan cerita. Kecuali, gangguan ketebalan huruf.
Entah kenapa, dalam beberapa halaman buku ada yang dicetak tebal dan dicetak
tipis. Padahal tiap kalimat tidak menunjukkan hal apa pun. Mungkin juga ini
hanya ada di buku milikku.
Lepas dari kekurangan tersebut, jika sudah membaca
karya Jack Lance pasti setuju bahwa setiap ceritanya mencekam dan selalu
memiliki latar belakang mengesankan. Ceritanya pun mengalir sehingga aku sebagai
pembaca bisa membangun relasi dengan para tokoh.
Sebagai novel Jack Lance lainnya, penulis selalu
menyuguhkan pesan tersirat. Bahwa manusia harus mampu saling memaafkan, jujur
dan terbuka. Menerima setiap kelamnya masa lalu dengan ikhlas meski awalnya
menyakitkan. Pada saat yang sama, dia
memikirkan ibunya. Dia sudah tahu tentang masa lalunya yang penuh gejolak, tapi
selama bertahun-tahun dia tak pernah meragukan ketulusannya dan betapa dia
telah menjadi orang lain, orang yang lebih baik (hlm 398).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar