Selasa, 17 Januari 2017

The Day You Died


Judul                : The Day You Died
Penulis             : Jack Lance
Penerbit            : Bhuana Ilmu Populer
Cetakan            : Kedua, Desember 2016
ISBN                : 978-602-249-765-3


Blurb
Hidup Jason Evans tak ubahnya berlayar di laut teduh. Tak ada kata yang mampu menggambarkan kehidupannya selain sempurna! Ia hidup bahagia bersama istri yang sangat mencintainya, memiliki karier gemilang, dan dikelilingi banyak sahabat baik. Kebahagiaannya tak terusik, hingga seorang tak dikenal mengiriminya sebuah foto aneh—foto batu nisan—dengan pesan mengejutkan di baliknya: Kau sudah mati.Jason yakin foto itu hanya ulah jail seseorang, tetapi kemudian ia menerima foto kedua. Kali ini dengan pesan yang lebih membingungkan: Kau mungkin merasa hidup, tapi sesungguhnya kau tidak ada di dunia ini....Jason mulai merasa nyawanya terancam. Pencarian akan batu nisan yang tertera di foto menjadi obsesinya: Batu nisan yang mungkin saja adalah penanda makamnya sendiri. Ia pun menemukan bahwa hidup tak seperti yang selalu ia yakini selama ini.Kemudian, foto ketiga datang dengan pesan: 18 Agustus, hari kematianmu.


***
Amplop tersebut berisi foto polaroid. Kiraman semacam itu tidaklah mengejutkan. Tapi gambar pada foto tersebut layak diperhatikan: sebuah gerbang besi tinggi berkarat, dengan pohon oak di kedua sisinya, serta di belakangnya, dengan pohon oak di kedua sisinya, serta dibelakangnya, sebuah nisan menjorok miring dari tanah (hlm. 15).
***

Jason Evans dipusingkan dengan kerjaan kantor untuk mencari rencana kampanye iklan mobil bekas milik Tommy Jones. Namun alih-alih mencari ide, tanpa sengaja mata Jason melihat amplop, berisi foto polaroid. Yang mengejutkan adalah, pesan singkat di balik foto. Kau Sudah Mati (hlm 15). Menuruti rasa penasaran, Jason mencari George yang bertugas mengantar surat di setiap bilik kantor. Tapi, jawaban George tak memuaskan rasa penasaran Jason. “Saya tidak mengerti kenapa ini terjadi, Tuan Evans. Saya berani bersumpah saya telah mengosongkan baki surat saya. Dan kemudian, ketika saya meliriknya setengah jam lalu, di luar kebiasaan saya, amplop Anda ada di sana.” (hlm 19)
Merasa surat itu lelucon, Jason melanjutkan hari-harinya seperti biasa. Mengobrol dengan istrinya, Kayla dan menjalani rutinitas kantoran. Lagi-lagi, Jason di usik oleh surat kedua yang dia temukan di rumahnya. Kali ini Jason tidak menganggapnya main-main, karena surat tersebut berisi ancaman. Foto yang pertama hanya membuatnya bingung, tapi dengan adanya foto kedua, segalanya berubah serius; serius dan menakutkan (hlm 45).

Dan ancaman itu semakin lama semakin serius. Seseorang berusaha mencelakai Jason dan Kayla. Lalu, surat ketiga sebagai bentuk ancaman lain. Makam yang bertulis satu huruf dengan latar pemakaman serta pesan terakhir yang membuat Jason segera mencari tahu. Awalnya hanya berusaha meninjau foto dengan bantuan Lou tapi lama-kelamaan mencari tahu di mana letak makam itu.

Rahasia yang ingin disimpan sendiri akhirnya ketahuan oleh Kayla. Awalnya Kayla marah karena memiliki masa lalu buruk dengan pemakaman, berkat upaya Jason meyakinkan istrinya, akhirnya Kayla mau membantu Jason mencari makam misterius tersebut.

Namun sebelum Jason mengajak Kayla untuk mencari letak makam, dia menyusun nama orang yang mungkin membencinya. Lalu, mulai membuat daftar kariernya yang bisa memberikan pencerahan. Namun tidak memberikan hasil apa-apa.


Kayla yang resah menyarankan Jason untuk datang bersama ke Mark, ahli terapis. Upaya Mark ternyata mampu membantu Jason mendapatkan petunjuk-petunjuk. Petunjuk itu yang membantu Jason mencari letak makam tersebut. Semakin Jason mencari petunjuk semakin banyak yang dipertaruhkannya. Hingga membuat keributan bersama Kayla. Akhirnya, Jason sadar bahwa apa pun yang dilakukannya akan mengancam nyawa Kayla. Pertengkaran itu adalah perpisahan mereka (hlm 421).

Novel setebal 464 halaman ini membuat pembaca disuguhkan plot twist. Tidak tertebak hingga akhirnya beberapa bab akhir mengungkap siapa yang meneror Jason selama ini. Latar yang digambarkan pun bisa dibayangkan. Tokohnya terus berkembang dan membuat pembaca larut dalam jalinan cerita. Kecuali, gangguan ketebalan huruf. Entah kenapa, dalam beberapa halaman buku ada yang dicetak tebal dan dicetak tipis. Padahal tiap kalimat tidak menunjukkan hal apa pun. Mungkin juga ini hanya ada di buku milikku.

Lepas dari kekurangan tersebut, jika sudah membaca karya Jack Lance pasti setuju bahwa setiap ceritanya mencekam dan selalu memiliki latar belakang mengesankan. Ceritanya pun mengalir sehingga aku sebagai pembaca bisa membangun relasi dengan para tokoh.

Sebagai novel Jack Lance lainnya, penulis selalu menyuguhkan pesan tersirat. Bahwa manusia harus mampu saling memaafkan, jujur dan terbuka. Menerima setiap kelamnya masa lalu dengan ikhlas meski awalnya menyakitkan. Pada saat yang sama, dia memikirkan ibunya. Dia sudah tahu tentang masa lalunya yang penuh gejolak, tapi selama bertahun-tahun dia tak pernah meragukan ketulusannya dan betapa dia telah menjadi orang lain, orang yang lebih baik (hlm 398).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar