Tampilkan postingan dengan label Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Januari 2017

Critical Eleven



Judul               : Critical Eleven
Penulis             : Ika Natassa
Editor              : Rosi L. Simamora
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Ketiga, September 2015
Tebal               : 344 halaman
ISBN               :978-602-03-1892-9





Blurb
Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat––tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing––karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.
In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah––delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.
Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.
Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.
Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

***

Berani menjalin hubungan berarti berani menyerahkan sebagian kendali atas perasaan kita kepada orang lain. Menerima fakta bahwa sebagian dari rasa kita ditentukan oleh orang yang menjadi pasangan kita (hlm 7-8).

***

Kalau dalam berbagai jenis genre film, dari bandara sampai naik pesawat itu selalu menjadi sorotan. Entah menjadi tempat keren, romantis, menyenangkan dan ada juga menyeramkan. Seperti, di film 407 Dark Flight yang menjadikan bandara sebagai kenangan terburuk serta pesawat sebagai teror karena ceritanya horor. Lain halnya dengan film AADC 2, pertemuan Rangga dan Cinta yang terlihat manis di bandara karena mengangkat tema romance.

Kisah Critical Eleven mengangkat esensi tersebut. Penulis menyajikan dan memberi judul Critical Eleven karena mencoba mengangkat masa kritis saat naik pesawat. Jadi, judul tersebut hanya sebagai pembuka cerita, bukan membahas secara detail mengapa pesawat bisa ada masa kritis atau membahas kisah kasih di pesawat. Itulah keunikannya.

Dok. pribadi

Di awali dengan Anya tanpa sengaja tertidur di bahu Ale. Hingga Anya bangun dengan salah tingkah karena merasa bersalah bersandar pada orang yang belum dikenal dan akhirnya mencoba mencairkan suasana dengan membuka pembicaraan. Ternyata pembicaraan mereka saling membuat rasa nyaman dan menyenangkan.

Sebelas menit yang paling kritis di dalam pesawat, yaitu tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing (hlm 16). Pengetahuan tersebut yang menjadi analogi pertemuan mereka. Bahwa tiga menit pertama menjadi first impression menilai sifatnya. Dan delapan menit menjadi penentu apa hubungan terus berlanjut atau berpisah.

Anya dan Ale memutuskan untuk terus melanjutkan komunikasi dan mengantarkan mereka resmi menjadi sepasang suami-istri. Dan saat itu sebuah kesalahan terjadi. Novel ini membahas tentang potongan masa lalu sebelum kesalahan tersebut dimulai. Kilas balik dibuka dengan Anya bahagia setelah menikah. Mencoba memahami kebiasaan Ale dan segala kesibukannya. Mungkin begini sewajarnya nasib sebuah pernikahan yang dimulai dengan jatuh cinta dalam tujuh hari. Sewajar hujan yang membasahi tanah. Sewajar api yang berasa panas. Dan mungkin, sewajar membenci seseorang yang dulu pernah jadi alasan kita percaya cinta (hlm. 27).

Di sisi lain, Ale yang memiliki banyak kesenangan mencoba mengajak Anya ke dalam dunianya. Dengan mengajak makan ketoprak Ciragil bersama. Hingga keahlian Ale yang gemar membuat kopi. Kata Ayah, setiap laki-laki harus bisa membuat kopi dengan cara yang benar dan enak (hlm 30).
Dalam dunia nyata, biasanya seorang istri memahami pekerjaan suami dan menunggunya dengan patuh. Hal yang sama dilakukan Anya. Pekerjaan Ale sebagai offshore operation engineer yang membuatnya sering tidak pulang. Sementara pekerjaan Anya sebagai management consultant yang membuatnya sering berlatih presentasi. Bahkan sering juga presentasi depan Ale kalau suaminya sedang di rumah.

Dengan kebiasaan unik masing-masing tokoh. Penulis mencoba mengajak pembaca memahami masa lalu dua karakater terlebih dahulu, hingga mengungkapkan penyebab konflik di antara keduanya. Dan ironisnya, orangtua mereka tidak tahu permusuhan Anya dan Ale. Sampai saat Ale bermain catur dengan Ayahnya. “Sudah, nggak perlu menyangkal. Ayah tahu. Sudah lama. Percuma Ayah pernah belasan tahun jadi intel kalau nggak bisa membaca gelagat anak dan mantu sendiri.” (hlm 54) Sejak itu, perjuangan Ale untuk mendapatkan hati Anya dimulai dan kejadian demi kejadian yang mengantarkan mereka pada konsekuensi. Bersama serta saling memaafkan dan berpisah untuk selamanya.

Novel setebal 339 ini menyuguhkan ide sederhana yang dikemas secara luar biasa. Jadi, enggak heran waktu proses mendapatkan buku ini juga butuh perjuangan. Pre-order bulan Juli yang sempat dibuka langsung habis selama sebelas menit. Padahal rencananya, di buka tiga hari. Jadi, rasanya aku termasuk yang beruntung dapat novel hasil pre-order Critical Eleven. :D

Dengan alur maju-mundur, novel ini menyuguhkan cerita berkesan bagiku. Wajar kalau Ika Natasaa sampai meraih nominasi Penulis Muda Berbakat di Khatulistiwa Literary Award tahun 2008. Dikemas menarik dengan hasil memikat. Penulis memaparkan tiap karakter untuk terus berkembang sampai penutupan buku. Ini hal yang jarang dilakukan oleh penulis lain, biasa karakter monoton dan begitu-begitu aja. Tapi, penulis berhasil menggiring Ale dan Anya menjadi tokoh yang seolah hidup.

Dengan gaya bahasa renyah, buku ini memberikan banyak pelajaran berharga. Dengan penuturan lembut tanpa menggurui. Bahkan beberapa selipan sindiran halus untuk laki-laki juga ada. Novel ini terasa lengkap terutama saat memberikan penuturan jenis pekerjaan masing-masing. Bagi orang yang belum menikmati pekerjaan sebagai offshore operation engineer atau management consultant pasti membutuhkan gambaran jelas jenis pekerjaan itu.

Namun, aku kecewa ketika Anya minum red wine. Lalu, Ale memelihara anjing. Bagiku, Ale ini sosok cowok idaman bahkan bisa menjadi book boyfriend bagi booklovers dan fangirl. Bukan mempermasalahkan agama, tapi memang posisinya dijelaskan dengan gamblang kalau Ale adalah muslim begitu juga dengan Anya. Jadi, rasanya ganjil kalau muslim yang baik sampai membawa anjing dan menyentuh anjing dalam durasi lama. (Yang beragama muslim pasti mengerti). Lalu keganjalan lainnya, ketika Anya menyebutkan beberapa jenis brand barang dan harganya secara spesifik saat sudah merasakan sakit hatinya ucapan Ale. Kalau aku pribadi, jika ada di posisi Anya, pasti aku enggak peduli itu merek apa atau berapa harganya karena sudah terlanjur sakit hati.

Di lain sisi, aku bangga dengan Ika Natasaa. Penulis yang melakukan banyak riset sampai menghasilkan gambaran jelas tiap jenis pekerjaan dan tempat (aku baca di ucapan terima kasih bagian belakang buku). Tapi, banyaknya informasi yang diterima justru membuat novel ini seperti fiksi bercampur artikel. Aku sih suka pengetahuan tentang otak, ingatan dan jenis memori. Namun, keganggu ketika latarnya terkesan tempelan karena sering berpindah tempat dalam kurun waktu cepat. Padahal di awal, penulis sudah bertutur dan merajut dengan lambat namun ditengah, penulis tampak terburu-buru demi membangun gejolak emosi tokoh.

Dibalik kekurangan itu, buku ini tetap bisa dinikmati untuk siapa saja. Remaja dan dewasa dapat turut serta tenggelam dalam karakter Ale-Anya. Karena sebagai perempuan, aku juga merasa tertohok dengan sikap Ale yang seolah menggampangkan. Aku menyerah mendefinisikan tadi malam itu apa. Yang jelas permasalahan antara aku dan Ale bukan jenis pertengkaran yang bisa diselesaikan hanya dengan tidur bersama  (hlm 169). Di bab ini, aku setuju dengan sikap Anya. Lelaki memang begitu… enggak paham remuknya hati perempuan (curcol).
Dan mungkin memang begitu takdirnya, bahwa yang manis-manis di antara kami sekarang tinggal sejarah (Hlm 90).


Coming Soon: Critical Eleven di Layar Lebar
Source IG Ika Natassa

Source IG Ika Natassa

Source IG Ika Natassa

















Novel best-seller mulai disusun naskahnya menjadi film. Ini sering terjadi karena dua alasan: pertama, novel itu menarik dan kedua, novel tersebut mengangkat tema unik. Kurasa, novel Critical Eleven mencakup poin kedua. Karena, temanya memang beda dan keren.

Aku senang luar biasa mendapat spoiler demi spoiler di IG dan twitter Ika Natasaa. Tapi, memang (agak) kaget ketika Anya diperankan Adinia Wirasti. Memang dalam imajinasiku, Anya ini sosok yang tegar di luar tapi rapuh di dalam. Tapi, aku sih mikirnya Agnes Monica yang dulu rambutnya warna hitam sebahu. Ale diperankan Reza Rahardian. Ah, ekspektasiku pasti bagus kalau lawan mainnya Reza. Secara Reza memang memiliki track record mampu menjadi siapa saja.

Harapanku, semoga film Critical Eleven sebagus novelnya. Aku menaruh harapan besar ke sutradara dan penulis, sebagai pemantaunya. Apalagi ada tiga bagian di novel ini yang aku tunggu. Saat Ale sedang bekerja di rig dan mau buru-buru pulang pas dengar kabar buruk. Kedua, ketika tragedi epik penyebab Ale dan Anya bertengkar. Dan terakhir, ketika Ale nanya tentang Anya pernah ke kuburan atau enggak ke Pak Idris dan dijawab dengan awkard.

Banyak sih adegan favorit lainnya tapi ketiga  poin itu paling menarik dalam ingatanku. Enggak sabar menunggu rilisnya film. Oh ya, soundtrack lagunya semoga digarap oleh Bunga Cinta Lestari dengan susunan nada agak mellow. Terus soundtracknya itu diputar pas adegan Ale dan Anya yang mulai perang. Haha. So excited for this movie.

Jumat, 06 Januari 2017

Fun Leader Funtastic Result



Judul                : Fun Leader Funtastic Result
Penulis              : Vitayanti Wardoyo
Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama
Terbit               : 2014
Tebal                : x+189 halaman
ISBN               : 978-602-03-1254-5
  



Berempatilah, meskipun target perusahaan mengejar bagai roket misil dalam perang dunia ketiga, anak buah kita tetaplah manusia. (halaman 23)
Kita harus sadar, sebagai seseorang pemimpin, kita bagaikan di bawah sorotan lampu spotlight ribuan watt dalam pandangan anak buah. (halaman 25)

***

Buku ini adalah sebuah karya non-fiksi dari pengalaman berkarier Vitayanti Wardoyo, membahas tentang menjadi pemimpin yang menyenangkan. Menjadi pemimpin menyenangkan memang bukan hal mustahil namun juga penuh tantangan. Yang diperlukan adalah membangun jembatan dengan anak buah seperti menanyakan kabar atau mendengar keluh kesahnya.
Dalam buku ini disebutkan bahwa ada 25 langkah menjadi pemimpin yang menyenangkan. Dari 25 langkah tersebut ada 3 langkah paling menonjol yang sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, Do Not Assume-yang membahas tentang seringnya kita menilai seseorang dari penampilan fisik dan berasumsi orang tersebut tidak mampu.
Jadi bagaimana caranya supaya kita tidak berasumsi? Buka hati dan pikiran kita dalam menghadapi hal-hal baru setiap hari. (halaman 49)
Kedua, Seni Menyimak-yang membahas betapa sering kita melakukan multitasking bersamaan dengan mendengarkan orang lain bicara.
Bagaimana kita bisa mendengarkan lebih baik sambil multitasking daripada berfokus menyimak apa yang disampaikan orang di hadapan kita?(halaman 89)
Ketiga, Build a Strong and Fun Culture-yang membahas tentang bos menciptakan suasana menyenangkan, ceria dan antusias di lingkungan kerja.
Untuk memberikan kado dan surprise ini, seluruh anggota iuran dalam memberikan kontribusi bagi kado, atau surprise yang kami berikan. (halaman 178)
Penjelasan dan pembahasan yang disampaikan lebih formal namun tidak juga menggurui pembaca. Serta format yang ditulis merupakan cerita singkat dengan pemilihan kata yang mudah dipahami dan tidak terkesan serius. Selain itu buku ini memberi porsi banyak pada penjelasan hubungan yang harus dibangun antara atasan dan anak buah.
Salah satu langkah kesukaanku adalah Cool Anger Management. Karena bagian ini menunjukkan sikap yang mirip seperti aku. Mudah meledak-ledak dan menunjukkan emosi berlebih hal ini juga dialami oleh Vitayanti saat bekerja dimana jika ada kinerja bawahan yang memburuk maka beliau akan menunjukkan amarah luar biasa hingga suasana hening dan membuat anak buah mengundurkan diri.
Saya kehilangan orang-orang terbaik dalam tim, karena saya tidak dapat mengendalikan amarah dengan baik. (halaman 152)
Buku Fun Leader Funtastic Result ini bisa menjadi bacaan menginspirasi juga meningkatkan kecerdasan otak kita dalam memimpin suatu tim. Banyak ide yang bisa diaplikasikan di kantor, meski hanya berfokus pada kantor tapi bisa beberapa ide bisa diterapkan di lingkup sekolah dan rumah.
Tidak ada typo yang mengganggu, membuat kita dengan lancar memahami penjelasan dari beliau. Pada setiap bab disuguhkan kalimat berwarna orange yang eye catching sebagai kutipan dengan ukuran huruf lebih besar. Tulisan ini terbukti ampuh untuk menarik poin penting yang dibahas di bab tersebut. Salah satu contohnya adalah sebagian besar pemimpin jelas-jelas menyembunyikan fakta, merekalah yang melakukan kesalahan. Mereka enggan mengakuinya, dan sama sekali tidak meminta maaf atas esalahan yang mereka lakukan. (halaman 121)
Kutipan tersebut sangat menarik karena kenyataan di lapangan juga demikian. Karena alasan gengsi, orang yang berkedudukan lebih besar enggan mengakui kesalahan sementara dengan mudah memarahi anak buah jika melakukan kesalahan. Situasi ini menciptakan anak buah menjadi tidak akan menghormati atasannya. Anak buah mana yang tidak sakit hati jika mengetahui hal tersebut? Untuk itu penjelasan beliau adalah mengakui kesalahan meski kita ujung tombak, karena akan lebih menyesal jika anak buah mengetahui kesalahan atasan dari orang lain.

Senin, 28 November 2016

Love in Montreal

Judul                : Love in Montreal
Penulis             : Arumi E
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Terbit               : 7 November 2016
Tebal               : 228 halaman
ISBN               : 978-602-03-3460-8



Aku percaya, dengan bersikap baik, suatu saat mereka sadar, Islam yang sebenarnya membawa damai dan kebaikan. Teroris itu kriminal, nggak ada hubungannya dengan agama." (Hlm. 19)

***

Blurb

Montreal. Di sinilah Maghali Tifana Safri, perancang baju asal Solo yang mulai bersinar namanya, mendapat kesempatan melanjutkan studi. Ujian berupa teror dari sekelompok orang hampir merontokkan sikap toleran Maghali, kalau saja Kai Sangatta Reeves tidak muncul menyelamatkannya. Rupawan, cerdas, berhati emas. Model sekaligus dokter dan relawan. Pesona Kai begitu kuat, tapi Maghali sadar dia tak boleh terlena karena lelaki itu berada di kutub yang berbeda.Ujian lain datang dalam bentuk gadis cantik bernama Isabelle. Model pirang yang memeragakan baju-baju rancangan Maghali ini meminta bantuan untuk lari dari jerat cinta sesama dan pemberitaan miring tentang masa lalunya. Seolah belum cukup pelik, Maghali kembali diuji kala Kai yang dirundung duka melabuhkan rasa resah pada dirinya, membuat gadis ini makin sulit memendam rasa. Kesadaran Maghali baru pulih kala melihat Isabelle mendekati Kai. Susah payah hatinya mengakui, keduanya lebih cocok menjadi pasangan karena sama-sama rupawan dan tak ada halangan mengadang.Ketika masa tinggalnya di Montreal berakhir, Maghali mengira selesai pula siksaannya menahan rasa pada Kai. Tapi pada satu hari sakral di Tanah Air, Kai tiba-tiba muncul. Akankah terbentang masa depan untuk keduanya, ataukah mereka harus puas dengan sepotong episode penutup? 

***


"Berapa kali aku harus jelaskan? Aku bukan pengungsi. Aku memang muslim, tapi aku nggak pernah minta bantuan dari kalian!" (hlm. 92)


***


Maghali Tifana Safri mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya ke La Mode Collage, Montreal. Semua berkat rancangannya dengan konsep modest wear—busana muslim yang memadukan bahan modern dan kain tradisional yang menarik perhatian salah satu dosen La Mode Collage bernama Miss Prudence. Bahkan dosennya berbaik hati untuk mengurus segalanya untuk Maghali. Selama belajar di kampus, Maghali berkenalan dengan berbagai model, termasuk Kai Sangatta Reeves dan Isabelle Estelle. Model yang akan memperagakan baju rancangan Maghali di mini fashion ini ternyata memiliki masalah berbeda.
Maghali sebenarnya tidak menyangka akan terjebak di dalamnya secara langsung. Semua bermula dari pingsannya Natalie-salah satu model-setelah acara mini fashion. Kai yang ternyata seorang dokter langsung membawanya ke rumah sakit. Sejak itu keduanya semakin dekat bahkan Maghali sampai menjadi relawan bagi pengungsi Suriah. Hal yang sama juga dilakukan oleh Isabelle karena terpesona dengan Kai.

Mereka bertiga pun mulai melakukan kegiatan sosial bersama yang membuat Maghali mulai merasa cemburu. Dia merasa tersisihkan di antara percakapan Kai dan Isabelle terlebih dia harus kembali ke Solo setelah masa belajarnya usai. Seiring berjalannya waktu, pada akhirnya Maghali harus menerima kenyataan pahit tentang Kai dan juga tentang Isabelle.

Lebih baik memiliki teman di kota yang jauh sekali dari keluarganya ini. Keputusannya berubah. (hlm. 107)


Dibanding dengan seri Around The World With Love lain karya Arumi, kisah inilah yang paling sederhana tapi menyenangkan. Aku menyukai bagaimana Arumi memasukkan konflik yang terlihat sepele ternyata berakibat besar di bab selanjutnya. Cover dengan dominasi warna putih salju mengambarkan secara jelas isi ceritanya.

Mengangkat tema agama dengan percikan cinta sepasang dua orang, Arumi memberikan porsi besar pada salah satu tokoh sampingan. Tokoh yang secara tidak langsung menghidupkan sosok Maghali dan Kai di buku ini. Meski berlatar Montreal, tetapi tidak ada aura yang mengajak pembaca tenggelam dengan latar tersebut karena penulis lebih berfokus dengan perkembangan cinta kedua tokoh utama.

Tokoh Kai lebih menonjol dibanding Maghali sendiri. Karena, di dalam buku ini, penggambaran Kai lebih kuat dan menarik perhatian lewat tingkah lakunya yang spontan. Tokoh Maghali sendiri lebih berfokus pada pemikirannya tentang agama dan toleransi.

Bisa dibilang alur ceritanya cepat karena penulis langsung melompat cepat ke arah selesainya acara mini fashion dan mendekatkan Maghali dan Kai. Menggunakan sudut pandang Maghali dengan alur maju membuat cerita ini lebih hidup. Pembaca akan di ajak merasakan gejolak batin Maghali sebagai perempuan muslim di antara budaya multikultural.

Secara keseluruhan Love in Montreal berhasil menggabungkan cerita cinta, keluarga dan agama menjadi jalinan kisah menarik. Arumi tetap tidak meninggalkan ciri khasnya yang menyampaikan pesan kebahagiaan dengan perbedaan agama.


Maghali menikmati kebersamaan ini. walau berada jauh dari keluarganya, dia tidak sendirian. Dia punya teman-teman yang membuat hidupnya menyenangkan. (hlm. 183)

“Ooh, kamu pingin mencoba mengenakan pakaian pengantin muslimah di acara pernikahan nanti supaya terasa sakral, gitu?” (hlm 195)

“Percayalah padaku. Perasaanmu akan lebih lega setelah mengakui apa yang ada dalam hatimu.” (hlm. 224)